Laporan Pratikum
KIMIA ANALITIK 1
OLEH: AGUSTIADI
NIM: 291325003
ASISTEN
MEJA: NURMILASARI
LABORATORIUM KIMIA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN AR-RANIRY BANDA ACEH
2015
1. Latar belakang
1.1.Analisa kation (logam)
Kimia analisis
secara garis besar dibagi dalam dua bidang yang disebut analisis kualitatif dan
analisis kuantitatif. Analisis kualitatif membahas identifikasi zat-zat.
Urusannya adalah unsur atau senyawaan apa yang terdapat dalam suatu sampel atau
contoh. Pada pokoknya tujuan analisis kualitatif adalah memisahkan dan
mengidentifikasi sejumlah unsur. Analisis kuantitatif berurusan dengan
penetapan banyak suatu zat tertentu yang ada dalam sampel. Prosedur yang biasa digunakan untuk
menguji suatu zat yang tidak diketahui, pertama kali adalah membuat sampel
(contoh) yang dianalisis dalam bentuk cairan (larutan). Selanjutnya terhadap
larutan yang dihasilkan dilakukan uji ion-ion yang mungkin ada. Kesulitan yang
lebih besar dijumpai pada saat mengidentifikasi berbagai konsentrasi dalam
suatu campuran untuk ion, biasanya dilakukan pemisahan ion terlebih dahulu
melalui proses pengendapan, selanjutnya dilakukan pelarutan kembali endapan
tersebut. Kemudian diadakan uji-uji spesifik untuk ion-ion yang akan
diidentifikasi. Uji spesifik dilakukan dengan menambahkan reagen (pereaksi)
tertentu yang akan memberikan larutan atau endapan berwarna yang merupakan
karakteristik (khas) untuk ion-ion tertentu (Underwood, 1992).
Menurut Keenan,
(1999) analisa kualitatif merupakan suatu proses dalam mendeteksi keberadaan
suatu unsur kimia dalam cuplikan yang tidak diketahui. Analisa kualitatif
merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mempelajari kimia dan
unsur-unsur serta ion-ionnya dalam larutan. Dalam metode analisis kualitatif
kita menggunakan beberapa pereaksi diantaranya pereaksi golongan dan pereaksi
spesifik, kedua pereaksi ini dilakukan untuk mengetahui jenis anion atau kation suatu larutan. Regensia golongan yang dipakai untuk klasifikasi kation yang paling umum
adalah asam klorida, hidrogen sulfida, ammonium sulfida, dan amonium karbonat. Klasifikasi ini didasarkan atas apakah
suatu kation bereaksi dengan reagensia-reagensia ini dengan membentuk endapan
atau tidak. Sedangkan metode yang digunakan dalam anion tidak sesistematik
kation. Namun skema yang digunakan bukanlah skema yang kaku, karena anion
termasuk dalam lebih dari satu golongan.
Didalam kation ada beberapa golongan yang memiliki ciri khas tertentu
diantaranya:
1. Golongan I : Kation golongan ini membentuk endapan dengan asam klorida
encer. Ion golongan ini adalah Pb, Ag, Hg. Dalam suasana asam, klorida dan
kation dari golongan lain larut. Penggunaan asam klorida berlebih untuk
pengendapkan kation golongan I memiliki dua keuntungan yaitu memperoleh endapan
klorida semaksimal mungkin dan menghindari terbenuknya endapan BIOCI dan SbOCI.
Kelebihan asam klorida yang terlalu banyak dapat menyebabkan AgCl dan PbCl 2 larut
kembali dalam bentuk kompleks sedangkan klorida raksa (I), Hg, Cl2 ,
tetap stabil.
2. Golongan II : Kation golongan ini bereaksi dengan asam klorida, tetapi
membentuk endapan dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer. Ion
golongan ini adalah Hg, Bi, Cu, cd, As, Sb, Sn. Kation golongan II dibagi
dalam dua sub-golongan yaitu sub golongan tembaga dan sub golongan arsenik.
Dasar dari pembagian ini adalah kelarutan endapan sulfida dalam ammonium
polisulfida. Sementara sulfida dari sub golongan tembaga tidak larut dalam
regensia ini, sulfida dari sub grup arsenik melarut dengan membentuk garam tio.
Golongtan II sering disebut juga sebagai asam hidrogen sulfida atau glongan
tembaga timah. Klorida, nitrat, dan sulfat sangat mudah larut dalam air.
Sedangkan sulfida, hidroksida dan karbonatnya tak larut.
3. Golongan III : Kation golongan ini tidak bereaksi dengan asam klorida
encer, ataupun dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer (buffer
ammonium-amonium klorida). Namun kation ini membentuk endapan dengan ammonium
sulfida dalam suasana netral / amoniakal. Kation golongan ini Co, Fe, Al, Cr,
Co, Mn, Zn. Logam-logam diendapkan sebagai sulfida, kecuali aluminium dan
kromium, yang diendapkan sebagai hidroksida, karena hidrolisis yang sempurna
dari sulfida dalam larutan air.besi, almunium, dan mangan (sering disertai
sedikit mangan) atau golongan IIIA juga diendapkan sebagai hidroksida oleh
larutan amonia dengan adanya amonium klorida. Endapan hidroksida pada golongan
ini bermacam-macam. Kation golongan IIIB diendapkan sebagai garam sulfidnya
dengan mengalirkan gas H2S dalam larutan analit yang suasananya basa
(dengan larutan buffer NH4Cl dan NH4OH).
4. Golongan IV : Kation golongan ini bereaksi dengan golongan I, II, III.
Kation ini membentuk endapan dengan ammonium karbonat dengan adanya ammonium
klorida, dalam suasana netral atau sedikit asam. Ion golongan ini adalah Ba,
Ca, Sr.
5. Golongan V : Kation-kation yang umum, yang tidak bereaksi dengan
regensia-regensia golongan sebelumnya, merupakan golongan kation yang terakhir.
Kation golongan ini meliputi : Mg, K, NH4+. Untuk menentukan adanya kation NH4+ harus
diambil dari larutan analit mula-mula. Untuk kotion-kation Ca2+, Ba2+,
Sr2+, Na+, dan K+. Identifikasi dapat
dilakukan dengan uji nyala
(Harjadi,
1990).
1.2. Kation golongan II
Dalam kehidupan
sehari-hari, kita senantiasa mengkonsumsi makanan sebagai pemenuhan kebutuhan
fisik. Sayur, buah dan lainnya yang kita makan, akan masuk ke sistem-sistem
yang ada dalam tubuh kita dalam bentuk ion-ion. Ion-ion tersebut berupa ion
positif (kation) dan ion negatif (anion). Dan
ion-ion ini tertentu seperti Hg2+
dapat merusak sistem organ dalam tubuh kita apabila suatu makanan yang
mengandung logam tersebut di ambang batas. Maka dari itu analisis kation logam
ini sangat penting kita ketahui. Degan kita mengetahui cara analisis kation
logam yang berbahaya ini, dapat kita hindari.
1.3. Penelitian terdahulu tentang kation
Penelitian tentang kation logam Hg dalam krim pemutih
herbal dilakukan oleh Fitriani dkk (2013) dengan metode kualitatif dan metode
kuantitatif hasil penelitiannya sebagai berikut :
1. Hasil pemeriksaan kualitatif Hg dari krim pemutih kosmetika
herbal positif mengandung Hg.
2. Dari hasil pengukuran absorban deretan larutan standar Hg untuk
pembuatan kurva kalibrasi dengan lampu katoda Hg dari konsentrasi 4 ng/mL – 20
ng/mL akan terlihat peningkatan dengan meningkatnya konsentrasi larutan.
Tabel I. Hasil
pengukuran serapan beberapa konsentrasi larutan standar Hg pada panjang
gelombang 253,7 nm
Gambar 1. Kurva
kalibrasi antara serapan dengan beberapa konsentrasi standar Hg.
3. Dari hasil perhitungan didapatkan persamaan regresi Y = 0,09714
+ 0,02328 x.
Tabel II. Hasil perhitungan koefisien kolerasi dan
koefisien regresi dari kurva kalibrasi
4. Uji batas deteksi dan batas kuantitasi Dari hasil pengujian diperoleh limit deteksi
Hg 4,7055 ng/mL dan limit kuantitasi Hg 15,6786 ng/mL.
5. Pengujian akurasi dan presisi dengan persen perolehan kembali. Larutan
standar Hg dengan konsentrasi 12 ng/mL yang ditambahkan larutan sampel
memberikan nilai akurasi 98,23 % dan nilai presisi dari larutan standar Hg
dengan konsentrasi 12 ng/mL (KV) 2,3513 %
6. Hasil penelitian kuantitatif Hg dalam sampel krim pemutih
kosmetika herbal dengan menggunakan spektrofotometri serapan atom didapatkan
kadar sampel 1 sebesar 0,56 %, sampel 2 sebesar 0,28 % dan sampel 3 sebesar
0,45 %.
Penelitian
tentang analisis logam beraat Pb juga dilakukan oleh Mulyani
Nur Atikah dkk (2012) dalam daun CAISIN (Brassica
juncea L.) dengan metode kuantitatif yang hasil penelitiannya sebagai
berikut:
1. Tabel 1.menunjukkan Kandungan logam Pb dalam daun caisin.
Tabel di atas menunjukkan
bahwa kadar rata-rata logam Pb pada lokasi ramai lalu lintas kendaraan bermotor
lebih tinggi dibanding kadar rata-rata logam Pb pada lokasi sepi lalu lintas
kendaraan bermotor. Kadar logam yang berbeda tersebut terutama disebabkan
karena perbedaan jumlah kendaraan bermotor yang melewati lokasi penanaman ramai
maupun sepi lalu lintas kendaraan bermotor.
2. Terdapat logam Pb dalam caisin yang ditanam di lokasi ramai dan
sepi lalu lintas kendaraan bermoto. Kadar rata-rata logam Pb di lokasi ramai
lalu lintas adalah 4,88 ppm dan kadar ratarata Pb di lokasi sepi lalu lintas
adalah 4,79 ppm. Dari nilai t hitung tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Hasil
validasi metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan harga
Standar Deviasi (SD) sebesar 2,93x10-4, Relative Standard. Deviasi (RSD)
sebesar 2,74%. Nilai persen perolehan kembali (recovery) rata-rata pada uji
akurasi metode sebesar 96,24% sedangkan uji linearitas didapat harga koefisien
korelasi sebesar 0,9952 lebih besar dari r tabel. Harga batas deteksi dan batas
kuantitasinya sebesar 0,33 ppm dan 1,11 ppm.
Selain itu I Putu Meda Parmiko
dkk (2014) juga melakakukan penelitian
tentang analisis kation logam Cu dan Zn dalam tanah dan pupuk serta
bioavailabilitasnya dalam tanah pertanian di daerah Bedugul adapun hasil
penelitianya mereka sebagai berikut:
1. Hasil penelitian tentang kandungan rata-rata total logam Cu dan
Zn pada setiap tanah yang ditanami tomat, kol, dan wortel disajikan pada Gambar
1.
2. Tabel 2. Menunjukkan kandungan logam Cu dan Zn pada pupuk.
3. Tabel 3. Menunjukkan presentase Bioavailabilitas logam Cu pada
tanah.
2. Tujuan percobaan
Adapun tujuan percobaan ini dilakukan untuk mengidentifikasi
:
1. Kation Merkuri (Hg2+)
2. Kation Timbal (Pb2+)
3. Kation Kupri (Cu2+)
4. Kation Mangan (Mn2+)
5. Kation Nikel (Ni2+)
6. Kation Kobalt (Co2+)
7. Kation Kalsium (Ca2+)
8. Kation Barium (Ba2+)
9. Kation Mangnesium (Mn2+)
3. Tinjauan Pustaka
3.1 Kation merkuri (Hg2+)
Merkuri (Hg)
adalah logam berat berbentuk cair, berwarna putih perak, serta mudah menguap
pada suhu ruangan. Merkuri (Hg) dapat larut dalam asam sulfat atau asam nitrit,
tetapi tahan terhadap basa. Hg memiliki titik didih 356,6ºC. Hg mudah membentuk
alloy amalgama dengan logam lainnya, seperti emas (Au), perak (Ag), platinum
(Pt), dan tin (Sn). Garam merkuri yang penting antara lain HgC12 yang bersifat
sangat toksik. Hg2C12 digunakan dalam bidang kesehatan, Hg(ONC)2 digunakan
sebagai bahan detonator yang eksplosif, sedangkan HgS digunakan pigmen cat
berwarna merah terang dan bahan antiseptik (Widowati et al, 2008).
Senyawa
merkuri bersifat korosif sehingga dapat menyebabkan dermatitis, dan dapat
terakumulasi dalam darah sehingga menyebabkan keracunan sistemik. Pemakaian
krim pemutih mengandung merkuri secara terus menerus dalam jangka panjang
mengakibatkan kerusakan ginjal, kanker kulit, dan otak (Palar, 2004).
Bahan-bahan ini telah dilarang penggunaannya pada PerMenKes RI No.376 /MenKes /
Per / VIII /1990 dan PerMenKes RI No.445/MenKes/PER/V/1998 (Anonim 1998).
Dari
penelitian yang dilakukan oleh : Fithriani Armin dkk pada tanggal 18 Januari
tahun 2013 pada krim pemutih kosmetika
herbal di kota Padang positif mengandung Hg atau kation Hg.
3.2. Kation Timbal (Pb2+)
Timbal adalah sejenis logam yang lunak dan
berwarna coklat kehitaman, serta mudah
dimurnikan dari pertambangan bahaya yang ditimbulkan oleh penggunaan timbal ini
adalah sering menyebabkan keracunan (Darmono,2001).
Menurut Fardiaz
(1992), sumber pencemaran udara yang utama adalah berasal dari transportasi
terutama kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar yang mengandung zat
pencemar.
Timbal atau
Tetra Etil Lead (TEL) yang banyak pada bahan bakar terutama. bensin, diketahui
bisa menjadi racun yang merusak sistem pernapasan, sistem saraf, serta meracuni
darah.Penggunaan timbal (Pb) dalam bahan bakar semula adalah untuk meningkatkan bilangan oktan bahan
bakar (Santi, 2001).
Hasil
pembakaran dari bahan tambahan (aditive) timbal (Pb) pada bahan bakar kendaraan
bermotor menghasilkan emisi timbal (Pb) yang bercampur dengan bahan bakar
tersebutakan bercampur dengan oli dan melalui proses di dalam mesin, logam berat
timbal (Pb) akan keluar dari knalpot bersama dengan gas buang lainnya
(Sudarmaji,
dkk., 2006).
Salah satu
tanaman yang sering dikonsumsi masyarakat adalah daun
caisin (Brassica
juncea L.). Sebagai sayuran, caisin atau dikenal dengan sawi hijau mengandung
berbagai khasiat bagi kesehatan. Kandungan yang terdapat pada caisin adalah
protein, lemak, karbohidrat, Ca, P, Fe, Vitamin A, Vitamin B dan Vitamin C.
Caisin sangat baik untuk menghilangkan rasa gatal di tenggorokan pada penderita
batuk, penyembuh sakit kepala, bahan pembersih darah, memperbaiki fungsi
ginjal, serta memperbaiki dan
memperlancar pencernaan
(Margiyanto, 2007).
Oleh
karna itu pada penelitian ini akan dilakukan penetapan kadar timbal (Pb) dalam
dauncaisin (Brassica juncea L.) yang ditanam di lokasi ramai lalu lintas
kendaraan bermotor (Pratin, Karang Reja, Purbalingga) dan lokasi sepi lalu
lintaskendaraan bermotor (Gombong, Belik, Pemalang). Kadar timbal (Pb) dalam tanaman
dapat ditetapkan dengan menggunakan metode analisis Spektrofotometri Serapan
Atom (SSA). Yang dilakukan oleh Mulyani Nur Atikah, dkk pada tanggal 02 Agustus
2012, pada dua lokasi yang berbeda yaitu lokasi ramai (Pratin, Karang Reja,
Purbalingga) dan lokasi sepi (Gombong, Belik, Pemalang).
3.3. Tembaga (Cu2+)
Tembaga adalah
suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Cu,
berasal dari bahasa Latin Cuprum dan nomor atom 29. Bernomor
massa 63,54, merupakan unsur logam, dengan warna kemerahan. Tembaga merupakan
konduktor panas dan listrik yang baik. Selain
itu unsur ini memiliki korosi yang cepat sekali. Tembaga
murni sifatnya halus dan lunak, dengan permukaan berwarna jingga kemerahan.
Dalam jumlah kecil tembaga ditemukan
pada beberapa jenis tanaman, bulu-bulu burung terutama yang berbulu terang dan
dalam darah binatang-binatang laut seperti udang dan kerang. Tembaga
kadang-kadang ditemukan secara alami, seperti yang ditemukan dalam
mineral-mineral seperti cuprite, malachite, azurite, chalcopyrite, dan bornite.
Deposit bijih tembaga yang banyak ditemukan di AS, Chile, Zambia, Zaire, Peru,
dan Kanada. Bijih-bijih tembaga yang penting adalah sulfida, oxida-oxidanya,
dan karbonat. Dari mereka, tembaga diambil dengan cara smelting, leaching, dan
elektrolisis.
3.4. Kation mangan (Mn2+) Mangan
adalah suatu unsur kimia yang mempunyai nomor atom 25 dan memiliki symbol Mn.
Mangan ditemukan oleh Johann Gahn pada tahun 1774 di Swedia. Logam mangan
berwarna putih keabu-abuan. Mangan termasuk logam berat dan sangat rapuh tetapi
mudah teroksidasi. Logam dan ion mangan bersifat paramagnetic. Hal ini dapat
dilihat dari obital d yang terisi penuh pada konfigurasi electron. Mangan
mempunyai isotop stabil yaitu 55Mn. Adapun berdasarkan kandungan logam berat
dari pewarna batik dan membuktikan sendiri melalui penelitian. Salah satu
metode yang dapat digunakan untuk menganalisis kandungan logam berat dalam
limbah batik adalah Analisis Pengaktifan Neutron (APN). Metode APN merupakan
suatu metode analisis yang memanfaatkan prinsip reaksi pengaktifan inti suatu
unsur dengan neutron, yang akan memancarkan radiasi -γ dengan energi spesifik
yang mencirikan unsur tersebut, sedangkan radioaktivitas yang dipancarkan dari
reaksi pengaktifan unsur tersebut akan sebanding dengan kandungan unsur yang
dianalisis(Susetyo,1988).
3.5. Kation nikel (Ni2+) Nikel
adalah elemen pertama pada kolom kesepuluh dari tabel periodik. Nikel
diklasifikasikan sebagai logam transisi. Atom nikel memiliki 28 elektron dan 28
proton dengan 30 neutron dalam isotop yang paling melimpah. Ditemukan
oleh: Axel Cronstedt pada 1751. Dalam kondisi standar nikel
adalah logam berwarna putih keperakan yang cukup keras, tapi mudah dibentuk.
Nikel adalah salah satu dari beberapa elemen yang magnetik pada suhu kamar.
Nikel bisa dipoles untuk mengkilap dan tahan korosi. Ini juga merupakan
konduktor listrik dan panas yang layak. Nikel adalah salah satu elemen inti
bumi yang diperkirakan sebagian besar terbuat dari campuran nikel dan besi.
Nikel juga ditemukan dalam kerak bumi dimana merupakan unsur ke dua puluh dua
yang paling berlimpah. Nikel mendapatkan namanya dari jerman, kata
“kupernickel” yang berarti tembaga setan” penambang jerman memberi nama bijih
yang mengandung nikel, karena mereka berpikir bijih tersebut mengandung
tembaga, mereka tidak dapat mengekstrak tembaga dari bijih tersebut. Mereka
menyalahkan iblis tidak bisa mengekstrak bijih ini.
3.6. kobalt (Co2+) Kobalt adalah elemen pertama dalam
kolom kesembilan tabel periodik.Kobalt diklasifikasikan sebagai logam transisi.
Atom Kobalt memiliki 27 elektron dan 27 proton dengan 32 neutron dalam isotop
yang paling melimpah. Ditemukan oleh: George Brandt pada tahun
1735 Dalam kondisi standar kobalt adalah keras, logam rapuh dengan warna putih
kebiruan. Ini adalah salah satu dari beberapa elemen yang secara alami
magnetik.Kobalt dapat dengan mudah menjadi magnet dan mempertahankan magnet
pada suhu tinggi. Kobalt ditemukan sebagai elemen bebas, tetapi ditemukan dalam
mineral dan dalam kerak bumi. Mayoritas kobalt di tambang di afrika dan
merupakan produk sampingan dari pertambangan logam lainnya termasuk nikel, tembaga,
perak,timah dan besi. Sebagian besar kobalt ditambang digunakan dalam super alloy yang sangat tahan terhadap korosi
dan stabil pada suhu tinggi. Kobalt mendapat namanya dari kata jerman yaitu
“Kobalt” yang berarti “globin (jin)” penambang bijih kobalt memberi nama ini
karena mereka takhayul tentang pertambangan bijih.
3.7. Kation kalsium
(Ca2+) Kalsium
adalah unsur ketiga pada kolom kedua dari tabel periodik. Kalsium
diklasifikasikan sebagai logam alkali tanah. Atom kalsium memiliki 20 elektron
dan 20 proton. Dan ada 2 elektron valensi di kulit terluar. Kalsium merupakan
elemen penting bagi kehidupan di Bumi dan merupakan unsur kelima yang paling
melimpah di bumi. Kalium jarang ditemukan dalam bentuk unsur, tetapi mudah
ditemukan diseluruh bumi sebagian besar dalam bentuk batuan dan mineral seperti
batu kapur (kalsium karbonat),dolomit (kalsium magnesium karbonat), dan
gibsum(kalsium sulfat), ini adalah elemen kelima yang paling umum dalam kerak
bumi. Ilmuan pertama menemukan dan mengisolasi unsur kalsium adalah ahli kimia
inggri sir humpriy davy pada tahun 1808. Sir
humpriy davy memberi nama kalsium dari kata latin, yaitu “calx” yang
disebut- sebut orang romawi adalah kapur.
3.9. Kation magnesium (Mg2+) Magnesium adalah logam alkali tanah
dan elemen kedua yang terletak di baris kedua dari tabel periodik. Ini adalah
unsur kedelapan yang paling berlimpah di Bumi. Atom magnesium memiliki 12
elektron dan 12 proton Ada dua elektron valensi dikulit terluarnya Ditemukan
oleh: Joseph Black ditahun 1755
Terisolasi oleh Sir Humphry Davy pada tahun 1808. Dalam kondisi standar magnesium merupakan
logam ringan dengan warna putih keperakan. Bila terkena udara, magnesium akan
memudar dan menjadi dilindungi oleh lapisan tipis oksida. Magnesium cukup berlimpah
di bumi dalam senyawa dan ditemukan lebih dari 60 mineral yang berbeda dalam
kerak bumi. Beberapa mineral yang paling penting termasuk dolomit, magnesit,
bedak dan karnalik. Salah satu kegunaan utama logam magnesium dalam paduan
logam. karna itu adalah baik kuat dan ringan. Hal ini sering dicampur dengan
aluminium, seng, mangan, silikon dan tembaga untuk membuat paduan yang kuat dan
ringan untuk digunakan sebagai suku cadang kendaraan bermotor, komponen pesawat
dan rudal.
4. Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam pratikum ini adalah
sebagai berikut:
4.1. Alat
No
|
Nama alat
|
Ukuran
|
Gambar
|
1.
|
Tabung reaksi dan rak tabung reaksi
|
25 mL
|
|
2.
|
Pipet tetes
|
|
|
3.
|
Penjepit kayu
|
|
|
4.
|
Spritus/ bunsen
|
|
|
4.2. Bahan
No
|
Nama bahan
|
Ukuran
|
Gambar
|
1.
|
Hg(NO3)2
|
0,1 M
|
|
2.
|
Larutan Pb(NO3)2
|
0,1 M
|
|
3.
|
CuSO4
|
0,1 M
|
|
5.
|
MnSO4
|
0,1 M
|
|
6.
|
NiSO4
|
0,1 M
|
|
7.
|
CoCl
|
0,1 M
|
|
8.
|
Ba(NO3)2
|
0,1 M
|
|
9.
|
MgCl2
|
0,1 M
|
|
11.
|
HCl
|
0,1 M
|
|
12.
|
KI
|
0,1 M
|
|
13.
|
Na2CO3
|
0,1 M
|
|
14
|
KOH
|
0,1 M
|
|
15.
|
CaCl2
|
0,1 M
|
|
17.
|
NaOH
|
0,1 M
|
|
18.
|
(NH4 )2CO3
|
0,1 M
|
|
19.
|
K2CrO4
|
0,1 M
|
|
5. Prosedur kerja dan pengamatan
No
|
Prosedur
kerja
|
Pengamatan
|
Reaksi
|
Keterangan
|
1.
|
Digunakan
larutan Hg2(NO3 )2 1 mL + larutan
Alkali Karbonat, maka akan terjadi endapan putih dari merkuro karbonat.
Endapan ini kemudian berubah menjadi abu-abu disebabkan oleh terbentuknya HgO
dan Hg. Ditambahkan alkali hidroksida maka akan terjadi endapan hitam dari
merkuro hidroksida.
|
|
|
|
2.
|
Digunakan
larutan Pb(NO3)2 ditambahkan asam klorida atau garam
klorida, akan terbentuk endapan putih timbal klorida, endapan ini sukar larut
dalam air dingin, tetapi larut dalam air panas. Kemudian tambahkan larutan
kalium iodida, maka akan terjadi endapan kuning timbal iodida. Dipanaskan
diamati apa yang terjadi.
|
|
|
|
3.
|
Digunakan
larutan CuSO4 ditambahkan larutan alkali hidroksida, maka akan
terjadi endapan biru dari kupri hidroksida. Jika dipanasi maka endapan
berubah menjadi hitam dari kupri oksida. Kemudian ditambahkan natrium
karbonat, maka akan terjadi endapan Cu(CO3 )3
|
|
|
|
4.
|
Uji Kation Mangan (Mn2+).
Dipakai
larutan MnSO4 ditambahkan larutan KOH, maka akan terbentuk endapan
putih Mn(OH)2, yang akan berubah menjadi warna coklat
karena dipengaruhi oleh udara. Kemudia tambahkan larutan natrium karbonat,
maka akan terjadi endapan putih MnCO3. Jika dipanasi oleh pengaruh
udara akan menjadi MnO2.
|
|
|
|
5.
|
Uji kation Nikel (Ni2+)
Didipakai
larutan NiSO4 a.Ditambahkan
larutan NaOH, maka akan terjadi endapan hijau dari nikel hidroksida.
b.
Ditambahkan larutan ammonium karbonat, maka akan terjadi endapan hijau dari
garam basa. Endapan larut dalam pereaksi berlebihan.
|
|
|
|
6.
|
Kobalt (Co2+)
Dipakai
larutan CoCL2
a.Ditambahkan larutan NaOH dalam keadaan dingin, maka akan terbentuk
endapan biru dari garam basa. Jika dipanasi, akan terbentuk kobalt
hidroksida. b. Ditambahkan larutan natrium karbonat, maka
akan terjadi endapan merah dari garam basanya.
|
|
|
|
7
.
|
Kalsiium
(Ca2+)
Dipakai
larutan natrium karbonat maka akan terjadi endapan merah dari garam basanya,
kemudian ditambahkan amonium karbonat maka akan terjadi endapan CaCO3.
|
|
|
|
8.
|
Magnesium
( Mg2+)
Dipakai
larutan MgCl2 ditambahkan larutan NaOH, maka akan terbentuk
endapan putih dari magnesium hidroksida. Kmudian tambahkan larutan amonium
kromat maka akan terbentuk endapan putih dari garam basa.
|
|
|
|
9.
|
Barrium
(Ba2+)
Dipakai
larutan Ba(NO3)2 di tambahkan larutan kalium kromat,
maka akan terjadi endapan kuning dari barium kromat.
Kemudian
ditambahkan larutan amonium kromat, maka akan terbentuk endapan putih dari
garam basa.
|
|
|
|
6. Pembahasan
Pada percobaan
ini kita akan menganalisis kation-kation logam dengan metode kualitatif dengan
cara mereksikan senyawa yang mengandung kation logam dengam pereaksi-pereaksi
tertentu percobaan pertama kita pakai larutan Hg2(NO3 )2 kemudian
kita reaksikan dengan larutan alkali karbonat, maka alkan terjadi endapan putih
dari merkuro, endapan tersebut menandakan adanya katio Hg dalam larutan
tersebut, endapan ini kemudian berubah menjadi abu-abu disebabkan oleh
terbentuknya HgO dan Hg.
Pada percobaan
kedua kita akan menganalisis kation tibal dalam suatu senyawa yaitu kita
gunakan larutan Pb(NO3)2 kita reaksikan dengan larutan
asam klorida (HCl)atau garam klorida maka akan terbentuk endapan putih timbal
klorida (PbCl2), endapan ini sukar larut dalam air dingin tetapi
larut dalam air panas. Selanjutnya kita reaksikan dengan kalium iodida (KI)
maka akan terbentuk endapan kuning timbal iodida. Jika dipanasi akan terjadi
letupan-letupan.
Pada
percobaan ketiga kita akan menganalisis kation kupri (Cu2+) dalam
suatu senyawa yaitu kita gunakan larutan CuSO4 kita reaksikan dengan alkali hidroksida, maka
akan terjadi endapan biru dari Kupri Hidroksida, jika kita panasi maka endapan
akan beribah menjadi hitam dari kupri hidroksida, selanjutnya kita reaksikan
lagi dengan natrium karbonat maka akan terbentuk endapan Cu(CO3)3
Pada
percobaan keempat kita akan menganalisis kation Mangan (Mn2+) dalam
suatu senya yaitu kita gunakan MnSO4, kita reaksikan dengan larutan
KOH, maka akan terbentuk endapan putih Mn(OH)2 , yang akan berubah
menjadi warna coklat karena dipengaruni oleh udara, kemudian kita reaksikan
lagi dengan larutan natrium karbonat, maka akan terbentuk larutan putih MnCO3.
Jika dipanasi, oleh pengaruh udara akan menjadi MnO2.
Pada
percobaan kelima kita akan menganalisis kation Nikel (Ni2+) dalam
suatu senyawa yaitu kita gunakan larutan NiSO4 kita reaksikan dengan larutan
NAOH ( natrium Hidroksida) maka akan terbentuk endapan hijau dari nikel
hidroksida, kemudian kita reaksikan amonium karbonat maka akan terbentuk
endapan hijau dari garam basa. Endapan larut dalam pereaksi berlebih.
Pada
percobaan keenam kita akan menganalis kation kobalt (CO2+) dalam
suatau senyawa yaitu kita gunakanlarutan CoCl2 kita reaksikan dengan larutan
Natrium hidroksida (NaOH) dalam keadaan dingin, maka akan terbentuk endapan
biru dari garam basa. Jika dipanasi, akan terbentuk kobalt hidroksida. Kemudian
kita reaksiakan lagi dengan natrium karbonat maka akan terbentuk endapan merah
dari garam basanya.
Pada
percobaan ketujuh kita akan menganalisis
kation barium (Ba2+) dalam suatu senyawa kita akan gunakan laruta
Ba(NO3)2 direaksikan dengan larutan kalium kromat, maka
akan terbentuk endapan kuning dari
barium kromat. Kemudian ditambahkan larutan asam sulfat akan terbentuk endapan
putih dari barium sulfat.
Pada
percobaan terahir kita analisis kation Magnesium (Mg2+) pada larutan MgCl2 kita
reaksikan dengan larutan NaOH, maka akan
terbentuk endapan putih dari magnesium hidroksida. Kemudian kita reaksikan
dengan amonium karbonat maka terbentuk endapan putih dari garam basa.
Percobaan
diatas sesuai dengan ynag di kemukakan oleh keena (1999) bahwa ; . Dalam metode analisis kualitatif kita menggunakan beberapa pereaksi
diantaranya pereaksi golongan dan pereaksi spesifik, kedua pereaksi ini
dilakukan untuk mengetahui jenis anion atau kation suatu larutan. Regensia golongan yang
dipakai untuk klasifikasi kation yang paling umum adalah asam klorida, hidrogen
sulfida, ammonium sulfida, dan amonium karbonat. Klasifikasi ini didasarkan atas apakah suatu kation bereaksi dengan
reagensia-reagensia ini dengan membentuk endapan atau tidak. Sedangkan metode
yang digunakan dalam anion tidak sesistematik kation. Namun skema yang
digunakan bukanlah skema yang kaku, karena anion termasuk dalam lebih dari satu
golongan.
7. Penutup
7.1 kesimpulan
a. Apabila larutan Hg2(NO3)2
direaksikan degan larutan alkali karbonat
maka merkuro karbonat akan mengendap menandakan adanya logam Hg/kation.
b. Apabila larutan Pb(NO3)2
direaksikan degan asam klorida atau garam klorida akan membentuk endapan
menandakan adanya kation( Pb2+).
c. Apabila larutan CuSO4 direaksikan dengan larutan
alkali hidroksida maka akan terbentuk endapan biru menandakan adanya kation (Cu2+).
d. Apabila larutan MnSO4
direaksikan dengan Kalium hidroksida maka akan membentuk endapan putih
menandakan adanya kation (Mn2+).
e. Apabila larutan NiSO4
direaksikan dengan natrium hidroksida maka akan terbentuk endapan hijau nari
nikel hidroksida, menandakan adanya kation (Ni2+).
f. Apabila larutan CoCl2
direaksikan dengan larutan natrium hidroksida maka akan membentuk endapan biru
dari garam basa. Jika dipanasi maka akan terbentuk kobalt hiroksida.
g. Apabila larutan CaCl2
direaksikan dengan amonium karbonat maka akan terbentuk endapan kalsium
karbonat, menandakan adanya kation (Ca2+).
h. apabila larutan Ba(NO3)2
direaksikan dengan larutan kalium kromat maka akan terbentuk endapan kuning
dari barium kromat. Endapan tersebut menandakan adanya kation (Ca2+)
h. Apabila larutan MgCl2
direaksikan dengan larutan natrium hidroksida maka akan terbentuk endapan putih
magnesium hidroksida yang menandakan adanya kation (Mg2+).
7.2 Saran
Dalam
pelaksanaan praktikum usahakan tabung reaksinya bersih dan pipet tetesnya
dibedakan karna jika menggunakan satu pipet tetes akan mempengaruhi warna karna
bereaksi dengan bahan yg menempel pada pipet tetes tersebut. Dan satu lagi
harus mengambil photo dengan benar-benar teliti karna dapat membuat kita
bingung waktu membuat laporan.
DAFTAR PUSTAKA
Day RA. Jr dan Al
Underwood. 1992, Analisis Kimia
Kuantitatif. Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta
Harjadi, W. 1990, Ilmu Kimia Analitik Dasar, PT Gramedia, Jakarta
Keenan, W. Kleinfelter. 1999, Kimia Untuk
Universitas, Erlangga, Jakarta
Fitriani,
dkk. 2013, identifikasi dan penetapan
kadar merkuri (Hg) dalam krim pemutih
kosmetika herbal, vol :18. No. 1 halaman 28-34
I
Putu Meda Parmiko, dkk. 2014, Kandungan
Logam Cu dan Zn dalam tanah dan pupuk serta biovaliditasnya dalam tanah
pertanian di daerah Bedugul. Vol :8. No:1
Mulyani Nur Atikah dkk, 2012. Analisa cemaran logam timbal (Pb) dalam daun caisin (brassica jujea L) ditanami di lokasi
ramai lalu lintas dan lalu lintas
kendaraan bermotor sepi , vol. 9, No: 2